RETORIKA KASUS RADIKALISME

Radikal merupakan suau paham yang menolak perbedaan gelar dan merombak suatu pandangan negara yang dalam aplikasinya radikal ini bersifat keras dengan mengupayakan segala yang ada demi tercapainya apa yang menjadi tujuan kelompok tersebut. Tidak jarang radikal itu berlaku tindakan kejahatan kemanusiaan, seperti pengeboman yang merupakan identik tindakan radikal yang berdampak pada lingkungan sekitar sampai membahayakan kehidupan manusia. Saat ini masyarakat mulai cenderung membatasi dalam gerak, karena maraknya kata teroris mengancam keselamatan manusia dunia yang berbeda paham dengan aliran radikal mereka.

Kasus radikalisme dikategorikan sebagai kasus yang dinamis dimana kasus tersebut terus berkelanjutan pada tiap periodenya. Meskipun sempat tertangkap kepala pelaku kelompok radikal disuatu daerah, tetap saja kasus ini tidak bisa terpecahkan secara tuntas. Akar kasus fundamentalis radikal agama Islam muncul di Indonesia terjadi masa awal gerakan DI/TII sekitar tahun 1960-an yang beroriental di 3 wilayah; Jawa Barat, Aceh dan Makassar (Sykur 2012). Gerakan mereka disatukan oleh keinginan menjadikan syariat islam sebagai dasar negara. Kartosuwiryo sebagai pemimpin gerakan mencita-citakan negara Islam dan menjadikan syaria Islam sebagai dasar hukum.  Kemudian fundamentalis radikal Islam muncul kembali pada awal tahun 1970 dan 1980 salah satunya melalui kelompok komando jihad.

Biasanya gerakan radikal ini diawali oleh pencucian pemikiran seseorang yang memiliki dasar keyakinan lemah. Begitupula kecanggihan teknologi yang kian lama seakan meninggalkan kebiasaan lama seperti yang dilakukan zaman Nabi Muhammad S.A.W. Dahulunya tidak ada tahlil namun ketika ajaran Islam berkembang dibawa oleh wali songo yang berdakwah menggunakan perpaduan budaya lokal, maka tahlil dijadikan syariat Islam oleh kelompok NU. Kelaziman kebudayaan agama ini didasari pemikiran kuat seorang yang meninggal tetap dapat merasakan buah doa. Doa sendiri bukan aktivitas yang membawa keburukan melainkan kemaslahatan.

Adapun tahlil yang aplikasinya tergolong bid’ah, bukanlah hal yang haram dilakukan jika itu membawa kebaikan karena bukan termasuk perkara yang dilarang, biasanya disebut bid’ah hasanah. Barulah yang dikatakan haram jika bid’ah ini membawa banyak keburukan, yang biasa disebut bid’ah dhalalah. Bagi mereka yang memiliki pemikiran radikal akan menolak adanya tahlil ini sebab mereka hanya menganut ajaran murni Islam. Mereka tidak mengenal toleransi sehingga tidak ada rasa peduli untuk golongan selain mereka, biasanya mereka lebih condong memiliki sifat tertutup.

Kasus radikalisme terbaru pada tanggal 30 Mei 2021 kemarin di Dsn. Ngipik, Ds. Tenggur, Kec. Rejotangan, kota Tulungagung, Jawa Timur. Uniknya penangkapan ini terjadi disaat Indonesia masih dalam keadaan social distancing. Sudah seharusnya pemerintah lebih tegas dalam membasmi kasus semacam ini, sebab kasus ini tidak pernah berakhir secara tuntas. Masih tetap ada saja golongan masyarakat yang secara sembunyi-sembunyi menyebarkan pemikiran keras bahkan ada yang ditutup-tutupi oleh masyarakat setempat. Semakin tahun mereka akan berkembang semakin baik dalam menutupi identitas mereka selaku teroris, sebagaimana NM dan MB yang tidak pernah terduga oleh para tetangga maupun mertuanya. Bahkan keluarga ini sering hadir dalam acara keagamaan seperti tahlil dan berhubungan baik bersama tetangga.

Hanya saja ketika diusik aktivitas kesehariannya terdapat kejanggalan yang mana NM banyak menghabiskan waktu diluar tanpa kejelasan profesi. Sempat dikabarkan pernah tinggal di korea dengan pulang membawa sejumlah uang yang lumayan besar, kemudian uang itu dibelikan dump truk untuk disewakan kepada pekerja tambang. Saat terjadinya pandemi seluruh truk dijual untuk kelangsungan hidup. NM sendiri mengaku memiliki pekerjaan di blitar asal kelahirannya, sehingga hanya sedikit waktu yang dihabiskan bersama keluarga bahkan bisa dikatakan di rumah hanya saat tidur atau bermain bersama anak saat pagi hari.

NM baru benar-benar terbukti sebagai teroris saat penggeledahan rumah yang dilakukan densus 88, dengan ditemukannya dua senjata api, delapan butir peluru aktif, satu selongsong peluru, satu senjata tajam dan paspor. Belum ada kelanjutan kasus yang menjelaskan bagaimana gerakan radikal yang dilakukan ataupun sudah ada tidaknya korban. Mengingat aksi kejahatan radikal yang pernah terjadi sering merenggut nyawa. Hal ini menyadarkan kita pentingnya keberadaan sosok pemuka agama yang toleran dengan didukung teknologi. Sebab banyak tersebar situs-situs dakwah di internet yang ternyata membawa pemikiran radikal. Bahkan tidak jarang situs dakwah salafi menjadi situs yang pertama atau teratas dalam pencarian. Ketidaktahuan masyarakat atas perbedaan situs salafi dengan situs kelompok toleran menjamah tanpa ada batas. Sudah selayaknya pemerintah sebagai pengatur utama tontonan masyarakat lebih cermat dan tegas dalam pemblokiran situs yang mengandung pemikiran radikal. Dikhawatirkan jika tidak ada ketegasan dalam situs akan melahirkan embrio-embrio teroris masa yang akan datang secara continue. Lambat laun korban akan semakin banyak yang bisa menjadi penyakit bagi keutuhan demokrasi negara kita.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

SEARCH

AGENDA

november, 2021

No Events

november, 2021

No Events

X