Fenomena Mahasiswa Gaib Selama Masa Pandemi COVID-19

Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor: 11 Tahun 2020 tentang Penetapan kedaruratan kesehatan masyarakat COVID-19 di Indonesia yang wajib dilakukan upaya penanggulangan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi selaku pemangku kebijakan dalam melaksanakan Pendidikan Tinggi berupaya melakukan berbagai strategi untuk melakukan upaya menghindari penularan dan mempersempit penyebaran Pandemi COVID-19, dengan mengeluarkan kebijakan bekerja, beribadah, dan belajar dari rumah, pembelajaran tatap muka diubah menjadi pembelajaran daring/online.

Merujuk kepada Keputusan Bersama Empat Menteri Nomor: 01/KB/2020 tanggal 15 Juni 2020 tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Tahun Ajaran 2020/2021 dan Tahun Akademik 2020/2021 di Masa Pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) bahwa metode pembelajaran di perguruan tinggi pada semua zona wajib dilaksanakan secara daring untuk mata kuliah teori dan sedapat mungkin juga untuk mata kuliah praktik.

Hal ini tentu saja sangat berpengaruh pada kegiatan perkuliahan yang awalnya tatap muka menjadi daring dengan berbagai aplikasi semisal: Zoom, Google meet, WhatsApp, Microsoft Kaizala, Cisco Webex, Quipper, Zenius, Rumah Belajar, Ruang Guru dan sebagainya. Dengan berbagai nilai positif dan negative dari pembelajaran daring bagi dunia pendidikan, kita tidak dapat memungkiri bahwa telah terjadi sebuah fenomena baru yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran terutama kegiatan perkuliahan, salah satunya adalah kehadiran “Mahasiswa Gaib alias Jaelangkung “ (tentu saja bukan gaib dalam arti sebenarnya) yang suka datang dan pergi sesuka hati dengan hanya meninggalkan jejak gelap atau photo profil sedangkan mahasiswa yang bersangkutan entah berada dimana dan sedang melakukan apa. Fenomena menyebabkan Dosen Pengajar terpecah dalam 2 (dua) faksi yaitu Dosen Pengajar Idealis yang mewajibkan wajah mahasiswa tampil selama kegiatan perkuliahan dan Dosen Pengajar yang cuek dengan berprinsip “yang penting materi tersampaikan” tanpa memperhatikan aspek pemahaman materi yang diberikan.

Fenomena ini disebabkan dari Attitude, Moral and Discipline dari mahasiswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Attitude;sikap;perangai;lagak;etika;akhlak dan kedisiplinan yang baik nampaknya menjadi barang mahal dan susah didapatkan saat pembelajaran daring terbukti dengan banyak mahasiswa menggunakan bahasa gaul yang susah dipahami ketika berdiskusi/tanya jawab dengan dosen. Contoh lainnya: ketika pembelajaran daring via Zoom Meeting atau Google Meet, mahasiswa kerap tampil turn on video hanya diawal dan saat absensi namun selebihnya selama kegiatan pembelajaran hanya tampil photo profil dengan alasan Unstable connection dan berbagai macam alasan lainnya.

Tentu saja hal ini sangat mengecewakan bagi Dosen Pengajar terutama jika Dosen tersebut murni berjiwa pendidik, sehingga kerap dilabel sebagai Dosen yang Idealis hanya karena mewajibkan mahasiswanya turn on video selama kegiatan pembelajaran daring. Namun bagi dosen tersebut pemahaman materi yang dapat diterima, dipahami dan diserap oleh mahasiswa merupakan capaian puncak yang ingin dicapai. Typical Dosen Pengajar yang seperti ini biasanya memiliki kepedulian serta kemampuan membaca raut wajah dan ekspresi dari mahasiswa sehingga menilai apakah materi yang disampaikan dapat dimengerti atau melihat keseriusan dari masing-masing mahasiswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.

Namun bagi Dosen Pengajar yang memiliki sikap cuek dan berprinsip yang penting materi disampaikan, maka hal ini akan sangat merugikan mahasiswa itu sendiri karena dosen tersebut tidak akan peduli dengan penerimaan dan pemahaman materi yang disampaikan kepada mahasiswa

Kembali lagi ke topik Attitude, Moral and Discipline, maka dalam hal ini kita wajib membangkitkan kembali nilai-nilai tersebut. Bertepatan dengan kegiatan Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB), kita harus dapat merubah mindset/pola pikir dari adik-adik mahasiswa baru bahwa Pendidikan Tinggi bukan hanya lanjutan dari sekolah yang telah mereka jalani, namun Pendidikan Tinggi adalah level atau tingkat pendidikan yang dijalani dengan sikap penuh kedewasaan, sehingga mahasiswa memiliki sikap, moral dan mental sebagai calon intelektual muda yang akan mewujudkan arah dan masa depan bangsa, sehingga tidak ada lagi istilah “Mahasiswa Gaib” dan semacamnya. Bagi yang terhormat Dosen Pengajar selaku tenaga pendidik diharapkan dapat melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu 1) Pendidikan dan Pengajaran; 2) Penelitian dan Pengembangan; 3) Pengabdian Masyarakat, sehingga kegiatan pembelajaran terutama kegiatan pembelajaran daring yang masih akan kita jalani sampai batas waktu yang belum dapat ditentukan ini dapat terlaksana dengan baik, dinamis dan berkembang demi mencapai tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara.(Trinil)

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

SEARCH

AGENDA

november, 2021

No Events

november, 2021

No Events

X